Sastra dan Bahasa

Sastra dan Bahasa

Sabtu, 02 Desember 2017

Pengertian Presuposisi dan Pengertian Entailment




Pengertian Presuposisi dan Pengertian Entailment
1.Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, terdapat gagasan menarik bahwa penutur menganggap informasi tertentu sudah diketahui oleh pendengarannya. Karena informasi tertentu itu dianggap sudah diketahui, maka informasi yang demikian biasanya tidak akan dinyatakan dan akibatnya akan menjadi bagian dari apa yang disampaikan tetapi tidak dikatakan. Istilah-istilah presuposisi dari entailmen secara teknis dipakai untuk mendeskripsikan dua aspek yang berbeda dari jeis informasi ini.

2. Pembahasan
A. Presuposisi
A.1 Pengertian Presuposisi
            Sebenarnya, presuposisi atau praanggapan (prepposition)  bearasal dari perdebatan dalam ilmu falsafah, khususnya tentang hakikat rujukan (apa-apa, benda/keadaan, dan sebagainya) yang dirujuk atau dihunuuk oleh kata, frasa, atau kalimat dan ungkapan-ungkapan rujukan (Nababan,1989:48)
Presuposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur, bukan kalimat. Gottlob Prege mengemukakan suatu  penjelasan tentang hal ini yang masuk akal dan diterima oleh pakar-pakar waktu itu. Dia mengatakan:kalau ada suatu pernyataan, selalu ada pranggapan bahwa nama-nama atau kata benda yang diapakai  baik sederhana atau majemuk, mempunyai suatu rujukan (reference). Jikalau orang mengatakan Kepler meninggal dalam kesengsaraan, ada praanggapan (orang-orang berpranggapan) bahwa nama ‘kepler’ merujuk kepada sesuatu benda atau menghunjuk kepada seseorang nyata (Nababan, 1989:49).
Dalam beberpa pembahasan konsep presuposisi adalah hubungan antara dua presuposisi. Jika kita mengatakan bahwa kalimat dalam (1a.) mengandung proposisi p dan kalimat (1b.) mengandung proposisi q, maka dengan menggunakan simbol >> yang berarti ‘yang dipranggapan’ kita dapat menggambarkan hubungan itu seperti dalam (1c.)
(1)        a. Boneka Syakira cantik                    (=p)
            b. Syakira mempunyai boneka            (=q)
            c. p >> q
Apabila kita balikkan kalimat dalam (1a) menjadi kalimat negatif/menyangkal (TIDAK p), seperti dalam (2a.), kita akan mendapatkan bahwa hubungan antara presuposisi tidak berubah. Yaitu diulangi seperti (2b.), proposisi q yang sama berlanjut dipresupossisikan oleh TIDAK p, ditunjukkan dalam (3c)
(2)        a. Boneka Syakira tidak cantik                       (=TIDAK p)
            b. Syakira mempunyai boneka                        (=q)
            c. TIDAK p >> q

A.2. Jenis-jenis Presuposisi
·         Presuposisi Potensial
Presuposisi potensial adalah jenis presuposisi yang hanya akan menjadi presuposisi yang sebenarnya dalam konteks dengan penutur.Seperti digambarkan dalam contoh 1 sampai 2, susunan possesif diasosiasikan dengan suatu keberadaan presuposisi.
·         Presuposisi Faktif (nyata)
Contoh:
(3)        a.(Setiap murid SD tahu menghitung dengan baik)
            ( Tidak semua murid SD tahu menghitung dengan baik)
Dalam (3), kata kerja ‘’tahu’ terjadi dalam struktur, ‘setiap murid SD tahu q’, dengan q sebagai presuposisi. Informasi yang di pra-anggapan yang mengikuti kata kerja ‘tahu’ dapat dianggap sebagai kenyataan, dan dideskripsikan sebagai presuposisi Faktif (kenyataan)
·         Presuposisi Leksikal
Pada umumnya, dalam presuposisi leksikal, pemakaian suatu bentuk dengan makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan presuposisi bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. Setiap kali Anda mengatakan bahwa seseorang ‘melaksanakan’ untuk melakukan sesuatu, makna yang ditegaskan adalah orang itu tidak berhasil. Tetapi di dalam kedua kasus tersebut, terdapat presuposisi (yang tidak di nyatakan) bahwa orang itu ‘mencoba’ untuk melakukan sesuatu.
Contoh:
(4)        a. (Clarin mulai menangis) (>> Sebelumnya Clarin tidak menangis)
            b. (Mira menghentikan dietnya) (>> Dulu dia melakukan diet)
            c. ( Filo terjatuh lagi) (>> Sebelumnya Anda terjatuh)
Di dalam kasus presuposisi leksikal, pemakaian ungkapan khusus oleh penutur daimbil untuk mempranggapkan sebuah konsep lain (tidak dinyatakan), sedangkan pada kasus presuposisi faktif, pemakaian ungkapan khusus diambil untuk mempra-anggapkan kebenaran informasi yang dinyatakan setelah itu.
·         Presuposisi Struktural
Dalam presuposisi ini, kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai presuposisi secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya.
Contoh :
(5)        a. (Dimana Syakira bermain?) (>>Syakira bermain)
            b. (Mengapa Siti memanjat pagar ?) (>>Siti memanjat pagar)
Tipe ini menuntun pendengar untuk mempercayai bahwa informasi yang disajikan pasti benar, bukan sekedar presuposisi seseorang yang sedang bertanya.
·         Presuposisi Non-faktif
Presuposisi non-faktif adalah suatu presuposisi yang diasumsikan tidak benar. Kata-kata kerja seperti ‘bermimpi’, ‘membayangkan’, dan ‘berpura-pura’, seperti yang ditunjukan dalam contoh (5), dengan presuposisi yang mengikutinya tidak benar.
Contoh:
(6)        a. (adik laki-laki Nari membayangkan memilki sepatu baru)
(>>adik laki-laki Nari tidak memilki sepatu baru)
b. (Mama bermimpi melihat nenek)
(>> mama tidak melihat nenek)
Kita sudah mengetahui suatu struktur yang diinterpretasikan dengan suatu presupposisi non-faktif (Andaikan aku punya sebuah perusahaan besar yang sukses). Sungguh, tipe struktur ini menciptakan suatu counter-factual presupposition (presuposisi posisi faktual tandingan), yang berarti bahwa apa yang dipra-anggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi merupakan kebalikan (lawannya) dari benar, atau ‘bertolak belakang dengan kenyataan.
B. Pengertian Entailmen
            Entailmen itu sebenarnya bukan konsep pragmatik (karena berhubungan dengan maksud penutur), tetapi malah dianggap sebagai suatu konsep logis yang murni), yang disimbolkan dengan | |-. Entailmen adalah sesuatu yang secara logis ada atau mengikuti apa yang ditegaskan di dalam tuturan. Yang memilki entailmen adalah kalimat, bukan penutur.
 Beberapa contoh entailmen untuk kalimat-kalimat dalam contoh (7) dan (8).
(7)        (Marimar menangkap 2 ekor ayamnya yang lepas)     (=p)
(8)        a. (Sesuatu mengejar 2 ekor ayam yang lepas)                                               (=q)
            b. (Marimar melakukan sesuatu terhadap 2 ekor ayamnya yang lepas)        (=r)
            c. (Marimar mengejar 2 ekor ayam)                                                               (=s)
            d. (Terjadi sesuatu)                                                                                        (=t)
Dalam menyajikan hubungan antara entailmen (7) dan (8a.) sebagai p | | -q, secara sederhana kita sudah menandakan suatu akibat yang logis. Marilah kita mengatakan bahwa dalam tuturan kalimat (7), penutur seharusnya mengakui terhadap kebenaran sejumlah besar entailmen bagian belakang ( hanya sebagain saja yang disajikan dalam [8 a – d ]. Akan tetapi dalam kesempatan apa saja dari tuturan (7), penutur akan menunjukan bagaimana entailmen- entailmen ini harus disusun.                                                   




3. Penutup
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
Daftar Pustaka
Lubis, Hamid Hasan.1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Yule, George.2006.Pragmatik. (terj. Indah Fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab).
            Yogyakarta: Pustaka Pelajar.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar