Sastra dan Bahasa

Sastra dan Bahasa

Kamis, 08 September 2016

Tokoh-Tokoh Penting dari Matur

Tokoh-Tokoh Penting dari Matur

1.Abrar Yusra 

1. Biografi

Abrar Yusra lahir di Lawang Agam 28 Maret 1943 adalah seorang wartawan dan penulis biografi Indonesia. Dia telah menulis banyak buku biografi para tokoh Indonesia, di antaranya biografi Selo Soemardjan,Azwar Anas, Amir Hamzah, A.A. Navis serta biografi Hoegeng yang dia tulis bersama Ramadhan K.H. dan biografi tokoh-tokoh Indonesia lainnya.Sebelum menjadi penulis biografi, Abrar dikenal sebagai jurnalis. Ia pernah jadi managing editor selama 9 tahun di Harian Singgalang. Kemudian juga pernah menjadi guru di sekolah INS Kayutanam,sebelum menjadi wartawan.
Abrar Yusra lahir  wafat dalam umur 72 tahun. Abrar Yusra menulis buku biografi Hoegeng,Polisi Idaman dan Kenyataan, Komat Kamit Selo Soemardjan (bersama Ramadhan K.H.), A.A. Navis, Satirisdan Suara Kritis dari Daerah, Harun Zain Tokoh Berhati Rakyat, Memoar Seorang Sosialis (memoar politik DjoeirMoehamad), dan biografi Azwar Anas, Amir Hamzah, A.A.Navis, Basril Djabar. Sebelum pindah ke Jakarta (tidaktanggung-tanggung, di Jakarta, Abrar Yusra pernah dudukdi Komite Sastra DKJ, 1990-1993), Abrar Yusra jadi redaktur Singgalang selama 9 tahun. Sebelum itu, 1975, Abrar Yusramenjadi guru Ruang Pendidik INS Kayu Tanam. Di sana danpada tahun itulah saya berkenalan dan berdiskusi menukik-mendalam tentang sastra dengan Abrar Yusra, Wisran Hadi,dan A.A. Navis.

2.Karya Sastra 
-Novelnya yang berjudul Tanah Ombak (2002) meraih penghargaan Hadiah Sastra Mastera (Masyarakat Sastra Asia Tenggara) kategori Karya Kreatif di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2003. 
Lapar aku, aku lapar. 
Kumakan buah segala buah segala padi segala ubi
Kumakan sayur segala sayur. Segala daun segala rumput
Kumakan ikan, ketam, udang, kerang
Kumakan kuda
Ayam, sapi, kambing, babi, tikus, bekicot
Aku lapar, lapar lagi!
Kumakan angin
Kumakan mimpi
Kumakan pil
Kumakan kuman
Kumakan tanah
Kumakan laut
Kumakan mesiu
Kumakan bom
Kumakan bulan
Dan bintang dan matahari
Kumakan mimpimu
Rencanamu
Tanganmu, kakimu
Kepalamu
Astaga, kumakan tanganku
Dan kakiku dan kepalaku
Dan hah, kumakan kamu!



2. Afrizal Malna


Penyair Afrizal Malna yang dilahirkan di Jakarta pada 7 Juni 1957. 
Afrizal lahir dari biografi keluarga dan etnis yang lalu dipahami dan dimaknai dengan dekonstruksi keras dan mengejutkan. Afrizal terus mengonstruksi biografi yang belum selesai. Pengetahuan biografi etnis diakui Afrizal dengan tuturan yang ingin berada dalam pandangan yang beda: “Saya sendiri adalah fenomena unik, kalau boleh dibilang begitu, dari sebagian besar para perantau Minang paska Orde Lama: berdarah Minang, tapi tidak lahir di Ranah Minang.” Itu pengakuan yang mungkin bisa terbaca dengan pandangan antropologi-sosiologis tentang individu dengan klaim identitas kelompok etnis. Perbedaan apa yang bisa ditemukan dari pengakuan Afrizal dengan tesis perantau yang dituliskan Mochtar Nai’m.

          Orang tua Afrizal adalah orang-orang Minang yang lahir di Bukit Tinggi (Sumatera Barat). Orang-orang itu lalu merantau ke Jakarta (Kramat Senen). Keluarga besar Afrizal yang berada di Jakarta hidup dengan nafkah yang diperoleh dari usaha sebuah restoran. Keberadaan restoran itu terpahamkan Afrizal sebagai konstruksi identitas: “Restoran itulah yang pertama kali memberi identitas yang kuat bahwa kami hidup sebagai keluarga Minang.”                       Konstruksi menjadi penyair tidak ditentukan dari dominasi identitas etnis dan keluarga. Kelahiran penyair tidak mesti memiliki latar belakang keluarga yang relevan dengan kerja kesusastraan (teks sastra). Afrizal lahir dari sebuah keluarga yang tidak mengenal kesusastraan. Afrizal lahir dari keluarga pedagang dan lingkungan sosial yang keras di Jakarta. Afrizal lahir dan berada dalam ruang yang urban, plural, dan keras. Hal-hal itu sekadar pengesahan kecil terhadap keputusan Afrizal sebagai penyair dan manusia resisten.
         
         Pengakuan Afrizal dalam buku Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia (2003) menjadi deskripsi penting tentang kisah keluarga dan kota Jakarta. Afrizal mengisahkan tentang kematian pamannya yang semula adalah pedagang dan mati karena sakit akibat pembangunan kota dan kecelakaan yang membuat pikirannya terganggu sampai kematian. Afrizal ikut mengurusi jenazah pamannya. Afrizal merasakan dan menukan narasi kematian: “Di balik mayat itu tersimpan cerita tidak hanya mengenai diri dan keluarganya, tetapi juga mengenai pembangunan Jakarta, dan penanganan pemerintahan kota yang tidak manusiawi terhadap rakyat yang hidup di sektor informal.” Narasi kematian Afrizal masih membawa nostalgia individu dan keluarga yang mengaku kalah terhadap kuasa kota dan modernitas.

        Afrizal yang mulai mempublikasikan puisi-puisi pada tahun 1980-an mulai menunjukkan kontroversi-kontroversi yang susah terpahamkan dalam kesusastraan Indonesia modern. Biografi Afrizal bisa terbaca dari puisi-puisi dan esai-esai yang kerap memakai diksi-diksi dan metafor keluarga. Afrizal adalah penyair menjauh (resisten) dari keluarga dan intim dengan wacana “keluarga”. Biografi Afrizal menyebutkan bahwa ada kepercayaan dan tindakan yang menyebabkan dirinya menjauh dari keluarga dan mengalami ketakutan. Keputusan dan tindakan Afrizal mungkin anarkhis terkait dengan keluarga. Siapa berani menjadi Afrizal dalam kisah kematian? Ibunya meninggal. Sebulan kemudian ayahnya meninggal. Kisah kematian ibu dan ayah itu tidak membuat Afrizal ingin melihat jenazah mereka. Afrizal pun tidak pernah tahu kuburan ibu dan ayah. Kisah kematian itu membuat Afrizal justru mendapatkan kembali personifikasi sebagai “orang Minang” yang negatif. Babak ini menjadi kontruksi yang mengatasi pertentangan penemuan dan kehilangan identitas dalam konteks restoran (keluarga) dan realitas modernitas.

        Biografi keluarga Afrizal mungkin mengalami perubahan-perubahan besar dan anarkhis. Puisi-puisi Afrizal pun banyak yang berurusan dengan “keluarga”. Ada pertanyaan-pertanyaan yang susah terjawab ketika membaca puisi-puisi Afrizal dalam wacana keluarga. Sekian puisi Afrizal kerap memakai judul dan diksi-diksi (metafora) keluarga. Puisi-puisi Afrizal yang berbau keluarga bisa terbaca dalam buku Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Aristektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1998), dan Dalam Rahimku Ibuku Tak Ada Anjing (2002). Sebuah prosa yang menarik dituliskan Afrizal dengan judul “Ayah Telah Berwarna Hijau”. Afrizal tak lupa untuk mencatat atau mengingat keluarga dalam halaman persembahan buku-bukunya. Afrizal dalam buku Arsitektur Hujan (1995) menulis dalam halaman persembahan: buah hati … Siti dan Jilan. Buku Kalung dari Teman (1999) mencantumkan: Saya persembahkan untuk Siti dan Jilan.

            Afrizal dalam puisi “Keributan dalam Pohon Pisang” menulis kalimat pembuka: (Nama anakku, Jilan, burung yang berkicau). Bisakah konstruksi identitas Afrizal dikaitkan dengan puisi “Masyarakat Rossa”? Bacalah: Ayahku bernama Rossa pula, ibuku bernama Rossa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rossa. Mereka memanggilku pula sebagai Rossa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru. Bagaimana pembaca mau menghubungkan sejarah biografi etnis dan keluarga Afrizal ketika membaca puisi “Makan Malam Bersama Ama dan Ami? Bacalah: Waktu itu saya berusia 5 tahun, Ama dan Ami sedang minum susu dui pasar Bukit Tinggi, mengumpulkan bangkai-bangkai rumah dari Kota Gadang: “Para perantau itu,” kata ibuku, “seperti rumah-rumah Minang yang menusuk telapak kakimu.” Lalu seekor anjing berlari dari ujung jalan, seperti negeri berada dalam bahaya perang PRRI. Tahu, politik tidak ikut campur mengatur kamar mandi saya. Membaca dan menafsirkan puisi secara biografis itu mungkin meski susah untuk menjadi benar atau dibenarkan. Afrizal meyakinkan pembaca: tradisi keluarga adalah halte kecil dalam kisah hidup Afrizal Malna.
  
3.Alex Leo


Nama:  Alex leo zulkarnain
Tempat tanggal lahir: Lahat,Sumatera selatan 19 Agustus 1935
Wafat: 12 maret 1999( pada usia 63) Depok,Jawa Barat
Agama: Islam
Pekerjaan: Jurnalis dan penyiar indonesia

Karya-karyamya:
Karya sastra nya yaitu Orang yang kembali (1956),Mendung (1963),dan Kisah-kisah dari negeri kambing.

4.Habib St. Maharaja
Habib St. Maharaja adalah seorang sastrawan yang berasal dari Matur. Beliau merupakan seorang pengarang angkatan Balai Pustaka. Novelnya yang terkenal yaitu “nasib”.



5.Motinggo Busye

Biografi dan Informasi Umum

Ia terkenal lewat novel-novelnya yang bercerita tentang seks dan kehidupan malam seperti Cross Mama (1966) dan Tante Maryati (1967). Karyanya yang berjudul Malam Jahanam dipilih sebagai naskah drama terbaik oleh Departemen P & K dan menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah seni dan teater. Selain dikenal luas sebagai novelis, mantan Redaktur Kepala Penerbitan Nusantara ini juga menyandang predikat dramawan, sutradara film,penyair,danpelukis.

        Motinggo Busye, seniman berdarah Minang kelahiran Kupangkota, Telukbetung, Lampung, 21 November 1937 ini sejak kecil sudah gemar membaca. Kegemarannya itu tidak bisa dilepaskan dari kecintaan pada buku yang diperlihatkan oleh ayahnya. Ketika masa pendudukan Jepang di Tanah Air sekitar Maret 1942, sebuah "mobil buku" milik Balai Pustaka ditinggalkan lari begitu saja oleh supirnya yang ketakutan dengan tentara Jepang.

        Saat peristiwa itu terjadi, Motinggo baru berumur 5 tahun. Selang beberapa tahun kemudian, setelah ia sudah lancar membaca, buku-buku Balai Pustaka seperti karya-karya Karl May dan buku Mowgli Anak Didikan Rimba terjemahan Haji Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI Agus Salim mendampinginya tumbuh dewasa. Dari situlah ketertarikan anak ketiga dari delapan bersaudara ini pada dunia tulis menulis berawal.

       Motinggo Busye lahir dengan nama asli Bustami Djalid, dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi'ah Ja'kub, keduanya berasal dari Minangkabau. Ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman, sedangkan ibunya berasal dari Matur, Agam. Setelah menikah, kedua orangtua Motinggo pergi merantau ke Bandar Lampung. Di sana ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota, sementara ibunya menjadi guru agama dan bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, Motinggo menjadi yatim piatu. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo kecil diasuh sang nenek dan tinggal di Bukittinggi hingga tamat SMA. 
Di dunia sastra, mantan redaktur kepala Penerbitan Nusantara periode 1961-1964 ini terbilang cukup produktif dalam berkarya. Sedikitnya ada 200-an karya yang telah dihasilkannya baik novel, drama, cerpen, maupun puisi, antara lain Malam Jahanam, Badai Sampai Sore, Tidak Menyerah, Hari Ini Tak Ada Cinta, Lihat Daftar Tokoh Perempuan 
perempuan Itu Bernama Barabah, Dosa Kita Semua, Dia Musuh Keluarga, Sanu, Infita Kembar, Madu Prahara, serta ratusan karya lainnya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, DC, Amerika Serikat.

          Nama Motinggo yang dipilihnya sebagai nama pena berasal dari Bahasa Minang, mantiko, yang maknanya antara sifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun nama itu dalam diri Motinggo bukanlah yang berkonotasi negatif. Untuk itu, ia kemudian menambahkan kata bungo, yang berarti bunga, di belakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Busye yang pertama kali digunakannya di tahun 1953 dalam majalah Nasional. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, sesuai adat Minangkabau, Motinggo juga memilki nama dewasa atau gelar yaitu Saidi Maharajo.

         Seperti kedua orang tuanya dan kebiasaan orang Minang pada umumnya, Motinggo pun meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau demi mengembangkan potensinya. Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) 
Yogyakarta dipilih sebagai tempat persinggahannya sekaligus untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Jurusan Tata Negara, meski belakangan ia tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya lantaran kecintaan pada dunia seni yang lebih besar telah menyita seluruh perhatiannya. Pilihannya untuk melanjutkan studinya di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) 
Yogyakarta semakin menyuburkan bakat seninya tersebut. Di kota berjuluk Kota Pelajar inilah, ia bertemu dengan seniman-senimana kawakan seperti Rendra, Kirdjomuljo, Nasjah Djamin, dan membuatnya bergabung di Sanggar Bambu.

            Meski gagal meraih gelar sarjana, tidak menghalanginya untuk berkarya. Justru setelah meninggalkan bangku kuliah, Motinggo lebih leluasa mendalami berbagai kegiatan berbau seni, seperti mengisi siaran sandiwara radio di RRI Bukittinggi, bermain drama, menjadi sustradara, melukis, menulis puisi, cerpen, novel, dan essai. Nama Motinggo Busye perlahan-lahan mulai berkibar di dunia kesusastraan Tanah Air. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa, seperti Minggu Pagi, Budaya, Mimbar Indonesia, Kisah, Sastra, dan Aneka.

         Di dunia sastra, mantan redaktur kepala Penerbitan Nusantara periode 1961-1964 ini terbilang cukup produktif dalam berkarya. Sedikitnya ada 200-an karya yang telah dihasilkannya baik novel, drama, cerpen, maupun puisi, antara lain Malam Jahanam, Badai Sampai Sore, Tidak Menyerah, Hari Ini Tak Ada Cinta, Lihat Daftar Tokoh Perempuan 
perempuan Itu Bernama Barabah, Dosa Kita Semua, Dia Musuh Keluarga, Sanu, Infita Kembar, Madu Prahara, serta ratusan karya lainnya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, DC, Amerika Serikat.

        Pada tahun 1958, sebuah naskah drama berjudul Malam Jahanam dianugerahi Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K. Karyanya yang lain yaitu cerpen Nasehat buat Anakku, mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Kemudian di tahun 1997, cerpennya yang berjudul Bangku Batu menyabet Juara IV dalam Sayembara Mengarang Cerpen di Ulang Tahun ke-31 Majalah Horison. Selain mendapat banyak penghargaan, karya-karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Ceko, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Cina, dan Jepang.

         Karya-karya Motinggo Busye menunjukkan perjalanan seni sekaligus perjalanan hidupnya. Salah satu novelnya yang berjudul 1949 merupakan gambaran sejarah tentang kenangan buram masa revolusi fisik yang menyebabkan dirinya bersama keluarga harus mengungsi di hutan belantara. Bahkan demi memenuhi kebutuhan ekonomi yang lebih baik, ia pernah memasuki fase menulis novel-novel pop porno. Namun itu tak berlangsung lama, hidayah kemudian datang dari anaknya yang belajar di Pesantren Gontor. Setelah itu, karya-karya sastra seorang Motinggo Busye menjadi lebih religius dan serius.

            Sebagai Penyair Legendaris Indonesia penyair, karya-karyanya pernah masuk dalam antologi Penyair Legendaris Indonesia penyair Asia di tahun 1986 dan antologi Penyair Legendaris Indonesia penyair dunia, empat tahun berikutnya. Selain terlibat dalam dunia sastra dan drama, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua II Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956) koperasi Seniman Indonesia ini juga hobi melukis. Pada tahun 1954, sebuah pameran lukisan di Padang pernah menampilkan 15 lukisan karya Motinggo.

          Seniman besar ini tutup usia pada 18 Juni 1999 di Jakarta akibat komplikasi penyakit diabetes. Sebelum wafat, sastrawan yang sempat menyutradarai beberapa judul film layar lebar di tahun 70-an ini meluncurkan cerpen terakhirnya yang berjudul Dua Tengkorak Kepala yang dimuat di Kompas, 13 Juni 1999. Cerpen tersebut kemudian diterbitkan oleh Penerbit Bentang dalam Buku Kumpulan Puisi Motinggo Busye.

Karya-karyamya:
Novel
•Malam Jahanam (1962)
•Tidak Menyerah (1963)
•Dosa Kita Semua (1963)
•Titian Dosa di Atasnya (1964)
•Cross Mama (1966)
•Madu Prahara (1985)
•Dosa Kita Semua (1986)
•Tujuh Manusia Harimau (1987)
•Dua Tengkorak Kepala (1999)
•Fatimah Chen Chen (1999)
Cerpen
•Nasehat Buat Anakku (1963)
Drama
•Badai Sampai Sore (1962)
•Nyonya dan Nyonya (1963)
•Malam Pengantin di Bukit Kera (1963)

6. Matrias Pandoe


Padang, (Antara) - Wartawan senior yang telah melintasi tiga zaman, Marthias Dusky Pandoe (84) meninggal dunia Jumat (9/5) pukul 17.40 WIB di kediamannya Jalan Karet 27 Padang, Provinsi Sumatera Barat. Almarhum adalah mantan wartawan Harian Kompas, yang sampai usia senjanya tetap aktif menulis.

Salah seorang anak almarhum, H Zola Pandoe, menyebutkan orangtuanya sebelumnya sakit, akibat terjatuh sehingga kaki dan pundaknya membiru. Almarhum kata dia tidak mau dirawat di rumah sakit dan minta istirahat dirumah saja.

Kepergian Pandoe didampingi oleh isteri tercinta Zuraida, 75 dan anak-anaknya, H. Zola Pandoe dan Andre.

Menantu almarhum, Corry Saidan menyampaikan permohonan maaf untuk almarhum. "Maafkan papi ya, jika semasa hidupnya ada kesalahan," tutur Asisten III Pemko Padang ini singkat.

Menyinggung tentang aktivitas almarhum, satu tahun belakangan, Pandoe masih menghasilkan tulisan-tulisan menarik yang dimuat pada rubrik tetap di harian Padang Ekspres. Tulisan-tulisan itu sudah diterbitkan dengan judul "A Nan Takana" oleh percetakan Gramedia.

Bukan itu saja, sebelumnya, tepat diusianya yang ke 80 tahun, Pada bulan Mei 2010, Marthias meluncurkan buku Jernih Melihat Cermat Mencatat. Ketika itu hadir tokoh-tokoh pers Indonesia.

Di antaranya Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Djafar Assegaff, Basril Djabar, Rikard Bagun, Julius Pour, dan Abrar Yusra serta tokoh Indonesia dari Sumatera Barat seperti Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI), Irman Gusman, mantan menteri Fahmi Idris, Hasan Basri Durin, sejarawan Taufik Abdullah, dan sejumlah tokoh lainnya.

Marthias Dusky Pandoe lahir di Kampung Lawang, Agam, Sumatera Barat, 10 Mei 1930. Mulai berkiprah di Harian Kompas sejak tahun 1970 sampai pensiun pada tahun 1998. Marthias adalah seorang wartawan otodidak tanpa satupun gelar akademis jurnalistik yang dipunyainya, namun karyanya sebagai wartawan mendapat apresiasi yang baik dari berbagai pihak. (*/WIJ)



 Foto tempat-tempat yang ada di Matur

  


Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/3645-sastrawan-yang-dinamis







Tidak ada komentar:

Posting Komentar